Rabu, 29 Januari 2020

Ringkasan Sifat Shalat Nabi (05) : BACAAN SHOLAT

Membaca Ta'awudz

1. Wajib ta’awwudz (berlindung kepada Allah Ta'ala), dan bagi yang meninggalkannya mendapat dosa.

2. Yang sunnah adalah membaca :
“A'udzu billahi minasy syaithaanirrajiim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa nafsyihi”

“Aku berlindung kepada Allah dari syithan yang terkutuk, dari godaannya, dari was-wasnya, serta dari gangguannya”. 23)

3. Dan terkadang membaca:

“A'udzu billahis samii-il a'liimi, minasy syaithaanirrajiim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa naftsyihi”

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari syithan yang terkutuk, dari godaannya, dari was-wasnya, serta dari gangguannya”. 24)

4. Kemudian membaca basmalah:

Di baca pada semua shalat secara sirr (tidak dikeraskan), baik ketika shalat jahar (bacaan keras) atau shalat sirr (bacaan tidak dikeraskan). 25)

Catatan :
23). Hadits shahih, lihat al-Irwaa’ no.342
24). HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad yang hasan
25). HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Awanah, ath-Thahawi dan Ahmad.

Membaca Al-Fatihah

5. Kemudian membaca surat Al-Fatihah sepenuhnya termasuk bismillah, ini adalah rukun shalat dimana shalat tak sah jika tidak membaca Al-Fatihah, sehingga wajib bagi orang-orang Ajm (non Arab) untuk menghafalnya.

6. Bagi yang tak bisa menghafalnya boleh membaca:

“Subhaanallah, wal hamdulillah walaa ilaha illallah, walaa hauwla wala quwwata illaa billah”.

“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sembahan yang haq selain Allah, serta tidak ada daya dan kekuatan melainkan karena Allah”. 26)

7. Didalam membaca Al-Fatihah, disunnahkan berhenti pada setiap ayat, dengan cara membaca. (Bismillahir-rahmanir-rahiim) lalu berhenti, kemudian membaca. (Alhamdulillahir-rabbil ‘aalamiin) lalu berhenti, kemudian membaca. (Ar-rahmanir-rahiim) lalu berhenti, kemudian membaca. (Maaliki yauwmiddiin) lalu berhenti, dan demikian seterusnya. Demikianlah cara membaca Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seluruhnya. Beliau berhenti di akhir setiap ayat dan tidak menyambungnya dengan ayat sesudahnya meskipun maknanya berkaitan.

8. Boleh membaca مالِ ِك dengan panjang, dan boleh pulaَ ملِ ِك dengan pendek. 27)

Catatan :
26). HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah (I/80/2), al-Hakim, ath-Thabrani dan Ibnu Hibban. Dishihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz- Dzahabi. Lihat al-Irwaa’ no.303.
27). HR. Taman ar-Razi dalam al-Fawaa’id, Ibnu Abi Dawud dalam al- Mashaahif (VII/2), Abu Nu‟aim dalam Akhbaari Ashbahaan (I/104) dan al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oelh adz- Dzahabi.

Bacaan al-Fatihah bagi Ma'mum

9. Wajib bagi ma'mum membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca sirr (tidak terdengar) atau saat imam membaca keras (jahar) tapi ma'mum tidak mendengar bacaan imam, demikian pula ma'mum membaca Al-Fatihah bila imam berhenti sebentar untuk memberi kesempatan bagi ma‟mum yang membacanya. Meskipun kami menganggap bahwa berhentinya imam di tempat ini tidak tsabit dari sunnah. 28)

Catatan :
28). Saya telah sebutkan landasan orang yang berpendapat demikian, dan alasan yang dijadikan landasan untuk menolaknya di kitab Silsilah Hadits Dho’if No. 546 dan 547.

Bacaan Sesudah Al-Fatihah

10. Disunnahkan sesudah membaca Al-Fatihah, membaca surat yang lain atau beberapa ayat pada dua raka'at yang pertama. Hal ini berlaku pula pada shalat jenazah.

11. Kadang-kadang bacaan sesudah Al-Fatihah dipanjangkan kadang pula diringkas karena ada faktor- faktor tertentu seperti safar (bepergian), batuk, sakit, atau karena tangisan anak kecil.

12. Panjang pendeknya bacaan berbeda-beda sesuai dengan shalat yang dilaksanakan. Bacaan pada shalat subuh lebih panjang daripada bacaan shalat fardhu yang lain, setelah itu bacaan pada shalat dzuhur, pada shalat ashar, lalu bacaan pada shalat isya, sedangkan bacaan pada shalat maghrib umumnya diperpendek.

Catatan: pada foot note sumber no.2 disebutkan no. 456 dan 457. Ibnu Majjah

13. Adapun bacaan pada shalat lail lebih panjang dari semua itu.

14. Sunnah membaca lebih panjang pada rakaat pertama dari rakaat yang kedua.

15. Memendekkan dua rakaat terakhir kira-kira setengah dari dua rakaat yang pertama. 29)

Catatan :
29). Perincian tentang ini, lihat Sifat Shalat hal 106-125 cet. ke 6 dan ke 7

Membaca Surat al-Faatihah di Setiap Rakaat

16. Wajib membaca Al-Fatihah pada semua rakaat.

17. Disunnahkan pula menambahkan bacaan surat Al-Fatihah dengan surat-surat lain pada dua rakaat yang terakhir.

18. Tidak boleh imam memanjangkan bacaan melebihi dari apa yang disebutkan di dalam sunnah karena yang demikian bisa-bisa memberatkan ma'mum yang tidak mampu seperti orang tua, orang sakit, wanita yang mempunyai anak kecil dan orang yang mempunyai keperluan.

Mengeraskan (Jahar) dan Mengecilkan (Sirr) Bacaan

19. Bacaan dikeraskan pada shalat shubuh, jum'at, dua shalat ied, shalat istisqa, khusuf (shalat gerhana) dan dua rakaat pertama dari shalat maghrib dan isya. Dan dikecilkan (tidak dikeraskan) pada shalat dzuhur, ashar, rakaat ketiga dari shalat maghrib, serta dua rakaat terakhir dari shalat isya.

20. Sesekali boleh bagi imam memperdengarkan bacaan ayat pada shalat-shalat sirr (yang tidak dikeraskan).

21. Adapun witir dan shalat lail bacaannya kadang tidak dikeraskan dan kadang dikeraskan.

Membaca Al-Qur'an dengan Tartil

22. Sunnah membaca Al-Qur'an secara tartil (sesuai dengan hukum tajwid) tidak terlalu dipanjangkan dan tidak pula terburu-buru, bahkan dibaca secara jelas huruf perhuruf. Sunnah pula menghiasi Al-Qur'an dengan suara serta melagukannya sesuai batas-batas hukum oleh ulama ilmu tajwid. Tidak boleh melagukan Al- Qur'an seperti perbuatan Ahli Bid‟ah dan tidak boleh pula seperti nada-nada musik.

Membenarkan Bacaan Imam

23. Disyari'atkan bagi ma'mum untuk membetulkan bacaan imam jika keliru.